Senin, 30 Mei 2022

Writer : Muhammad Rizki





JEJAK LANGKAH

Ini adalah perjalanan menuju sebuah harmoni perjalanan untuk mengenal alam, menyelaraskan hati dan pikiranku dengan ciptaan tuhan yang paling indah. Ini adalah perjalanan sendiri atau solo hiking karna sebagian besar perjalanan ini aku lakukan seorang diri mungkin ada saat nya aku bertemu dengan seseorang atau kelompok pendaki lain dalam perjalanan, dalam perjalanan ini mau tidak mau atau keharusan bagi diriku untuk bertanggung jawab atas diriku sendiri, mau tidak mau aku bertumpu dengan kekuatan ku sendiri jdi sebelum ini aku mulai 3 bulan sebelumnya aku sudah menempa diri dengan persiapan tertentu yang pasti mental, fisik, pengetahuan dan peralatan sudah aku siapkan jauh-jauh hari, latihan fisik aku lakukan dengan lari mungkin 3-5 km perhari ditambah dengan latihan latihan fisik intens dengan bersepeda 10-15 km untuk menghadapi jalur yang takan bisa kita prediksi besok dan lagi faktor cuaca tentu digunung cuaca sangat susah di prediksi karna itulah persiapan yang intens menurutku sangat penting bukan untuk melawan tapi hanya berusaha untuk berharmonisasi dengan alam, kemudian makan sehat itu penting sebenarnya aku cukup menimbun lemak untuk persiapan dengan asupan makanan yang sehat dan terakhir dan tak kalah pentingnya yaitu menambah pengetahuan dari mulai membaca jurnal-jurnal penting tentang pendakian di jalur pendakian yang akan aku tempuh kemudian aku harus riset tentang cuaca yang bisa aku akses dari internet dan masih banyak hal lain yang aku persiapkan dalam 3 bulan agar nantinya waktu perjalanan tidak ada hal –hal yang tidak dapat aku tangani nantinya setidaknya hal tersebut dapat lebih membuatku bersiap dari segala kemungkinan.
Buatku ini bukan perjalanan wisata seru-seruan ini adalah hal yang harus aku perhitungkan dari hal yang paling remeh hingga detail yang paling dalam, atap tempat tidur, selimut, dapur maka benda- benda ini lah yang akan menjadi rumahku 7 hari kedepan, oh...ya ada pesan kecil segila apapun rencana yang kamu punya usahakan orang orang terdekatmu mengetahuinya dan kali ini aku sudah mendapatkan restu dari mereka smua, mempersiapkan diri ternyata sangat melelahkan tapi buatku yang paling penting adalah tetap menikmati segala proses dan persiapan yang aku lakukan, seperti saat ini contohnya aku bermain air sambil berenang di sebuah kolam air terjun dijalur tempat aku menempa fisikku untuk persiapan, terasa segar, damai dan menyenangkan, ya...segala sesuatu yang dilakukan dengan senang hati akan terasa nikmat walaupun melelahkan.

”Pendakian Gunung Sumbing Via Banaran”
aku berada digunung pertama yaitu gunung sumbing 3371 mdpl, aku mulai naik dari dusun banaran daerah paling barat dari kecamatan tembarak, kecamatan tembarak masuk dalam ketinggian sekitar 1100 mdpl dan daerah sini memang daerah penghasil tembakau jadi tadi malam aku sempat di ajak teman-teman di basecamp yang sangat ramah, teman teman mengajak melihat proses perajangan tembakau kami sempat berantai bareng di basecamp membuat api unggun sambil menikmati secangkir kopi sambil bersantai menikmati suasana, jadi semalam aku sempat menginap disana semalam untuk aklimatisasi menyesuaikan suhu tubuh, tapi suhu hari ini cukup normal cukup enak hhmm tadi pagi bisa mencapai 17 derajat sambil berjalan santai menikmati pemandangan gunung sumbing di pagi hari dan menyapa warga sekitar yang sedang berkebun, jadi mungkin hari ini aku memutuskan untuk naek ke pos 4 watuondo sekitar 4 sampai 7 jam perjalanan awal perjalanan yang memanjakan mata, sepanjang mata memandang hanya hijau pohon dan birunya cerah langit gunung sumbing... ya ini lah awal perjalanan dari persiapan panjang yang aku lakukan yang cukup membuat ku percaya diri dan bersemangat, selama 30 sampai 60 menit pertama perjalanan badanmu akan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar jadi kalau aku pribadi aku coba mengambil langkah sesantai mungkin dengan bernafas se relax mungkin aku coba menggambarkan seperti sekitarku, duniaku menjadi slow motion jadi kita berjalan pelan lambat fungsinya 1 hemat tenaga kita tidak terburu-buru dan lucunya banyak teman-teman yang terjebak bahwa pendakian yang paling cepat dan bersemangat itu yang paling baik, tapi ... rata – rata hanya terjebak agar dapat pujian agar mendapat pengakuan bahwa kalian pendaki paling hebat padahal kalian menguras tenaga kalian dan untuk olah raga seberat ini mungkin agak tidak bijak, jadi kalo aku sih awal.. aku berjalan seperti nenek-nenek sebenarnya pelan santai yang penting istirahat minimal sedikit dan kita bisa cepat sampai tujuan tanpa harus beristirahat terlalu lama
 aku mengambil langkah kaki pertamaku tepat jam 10 pagi  lalu satu setengah jam berikut nya aku sudah menapakkan kaki di pos 1 jalur banaran langkah aku lanjutkan tak berselang lama papan penanda pos dua sudah melambai –lambai dari kejauhan akupun beristirahat sejenak menikmati camilan dan minuman yang aku bawa, agak lelah memang karna sumbing bukanlah gunung yang mudah trek terjal terus ada tangga yang tak habis-habis para pendaki biasa menyebutnya eskalator mbah subari tanpa beban di punggung pun itu terasa berat apalagi dengan beban dipunggung dari perjalanan-perjalanan sebelumnya aku banyak belajar  mungkin sebelumnya aku bisa membawa beban 20 – 30 kg tapi dalam perjalanan ini aku mencoba mengubah cara mendaki ya mungkin banyak yang bilang ultralight hicking mendaki dengan membawa barang-barang yang lebih ringan tidak membawa barang-barang yang kita perlukan dan memang pengaruhnya besar sekali meringankan beban bawaanku, masih dalam istirahatku dengan tangan kiriku memegang minum dan tangan kanan ku memegang camilanku, aku memandang sekitar dengan nafas yang masih terengah engah aku menarik nafas panjang menghirup udara yang sangat terasa segarnya, dan bersukur memuji indahnya ciptaan Mu, baru jam 1 tapi udara sudah dingin sekali kelamaan berhenti kita bisa kedinginan lebih baik kita melanjutkan perjalanan ke pos 4 mungkin memakan waktu 2 jam yuk....lanjut jalan nya pun mulai berdebu sepanjang jalur debu mulai beterbangan,  bicara tentang mendaki gunung ada banyak sekali yang kita pelajari diatas sana bukan hanya soal kebersamaan ada hal yang lebih penting misalnya tanggung jawab apapun yang kita bawa keatas entah itu perlengkapan, kebutuhan atau yang terpenting mungkin sampah sudah seharusnya kita pertanggung jawabkan sendiri tanpa harus  merepotkan dan menyulitkan orang lain jika fisik menjadi alasan kalian tubuh manusia itu unik ketika dia dilatih melampaui batas nya otomatis batas-batas itu meningkat jadi jika alasan fisik menjadi alasan untuk kalian bisa merepotkan teman kalian aku rasa ini kurang tepat lemah atau kuat itu sebuah pilihan bagi yang butuh untuk menjadi kuat dia akan kuat bagi yang nyaman untuk menjadi lemah dia akan tetap berada di tempatnya sekarang salutku buat teman-teman laki-laki terutama perempuan yang dengan gagah berani memikul atau mengangkat bebannya sendiri tanpa merepotkan orang lain.Dalam trek ini aku pun bertemu dua pendaki dan akupun saling menyapa kamipun berbincang menginformasikan keadaan di pos 4 yang akan menjadi tujuanku masih ada pendaki lain asal jakarta tapi mereka menginfokan bahwa diatas tidak ada air walaupun ada ternyata airnya keruh, mudah-mudahan airnya masih bisa kita filter atau terpaksa aku harus menghemat air baik untuk minum atau memasak, tanjakan panjang berdebu berganti dengan jalur rerumputan berselimuti awan tipis berjalan sendiri membuatku punya banyak waktu berdialog dengan diriku sendiri walau tubuh mulai letih tapi aku tahu didepan masih ada tantangan yang menanti dari kejauhan tampak tenda berwarna merah dengan riuh pendaki yang sedang bercengkrama aku pun menyapa mereka, ternyata benar mereka adalah pendaki dari jakarta yang sedang berkemah di pos 4, mereka menyambutku dengan hangat sambil menawarkan bakwan hangat yang sedang mereka buat akupun bertanya kenapa tidak lanjut ke puncak ternyata mereka pendaki yang kemaleman di jalur dan terhalang oleh pekat kabut malam yang menghalangi jalan maka meraka putuskan untuk berkemah disini , dengan ramah mereka menawarkan makanan yang mereka sedang buat dan aku pun menyambut dengan senang hati, ya..aku dapat rezeki di pos pemberhentian ini kami pun beristirahat bersama sambil menikmati hidangan dan sambil bersenda gurau akupun mulai bimbang untuk lanjutkan perjalanan atau istirahat disini melewati malam tapi yang penting aku menikmati bakwan teman-teman dari jakarta dan secangkir kopi, suasana persahabatan sangat kental di tempat seperti ini seakan-akan inilah dunia ideal dimana semua orang bisa berbagi apapun tanpa prasangka tanpa curiga, setelah beberapa saat akupun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan akupun berpamitan dengan mereka , masih ada satu tantangan selanjutnya sebelum aku beristirahat adalah watu ondo atau batu tangga jalur yang lumayan terjal yang membuatku harus berhati-hati dan memperhitungkan setiap langkah yang aku lewati karna salah perhitungan bisa patal akibatnya dan sekarang dihadapanku terlihat jelas tantangan itu jalur berbatu sebagian besar dengan kemiringan hampir 90 derajat dengan tebing batu akupun mulai menapakinya perlahan tenyata memang sulit walaupun sudah ada alat bantu berupa rantai/tali yang sudah ada tapi ternyata cukup membuatku kesulitan dan akhirnya aku sampai diatas yaitu di pos 4. malam ini aku akan camp disini sekarang sudah jam 4 sore dan aku putuskan untuk bermalam disini, ya disini ditempat sunyi seorang diri tapi tempat sunyi ini membantuku memberi inspirasi untuk melanjutkan tulisanku ini tenang damai tapi aku harus tetap waspada karna aku sendirian di tempat ini, selamat datang di home sweat home akhirnya istirahat setelah ini aku berencana untuk makan, lumayan udaranya dingin parah sore saja udara sudah 10 derajat celcius setelah makan sepertinya aku akan tidur namun sebelumnya mari kita masak, aku membuka perbekalan dan mulai memasak menurutku Cuma ada dua hal tentang makanan digunung yaitu enak atau enak banget ya aku sangat menikmati setiap suap makanan yang masuk ke mulutku setelah makan ku memutuskan untuk membuat kopi sebagai penutup di jam menuju petang ini , malam datang dengan cepat kantung tidurpun jadi satu-satunya tempat paling aman untuk bersembunyi melalui dinginnya malam yang akan aku lalui di tempat ini sekarang sudah hampir jam 8 suhu turun drastis saat ini mencapai 8 derajat, beruntung tidak ada angin yang kencang, kadang banyak orang yang bertanya ngapain seseorang menyendiri apalagi diatas gunung seperti ini, entah kenapa bagi banyak orang sendiri itu tabu Cuma kenapa aku mau melakukan seperti ini, kadang untuk mengenal diri kita sendiri kita harus sendiri untuk jadi diri sendiri karna kita kadang tidak benar- benar bisa jadi diri sendiri ada orang bilang a bilang b yang mengatakan bahwa kita seperti ini kamu seperti itu karna itu aku memilih sendiri terkadang Cuma dengan cara ini kamu bisa mengehtahui ini Aku, aku ngga bilang enak dengan keadaan seperti ini Cuma yang pasti saat saat seperti ini kamu ngga harus kasih makan ego orang lain terkadang berada dibanyak orang ada energi-energi negatif seperti marah, iri dengki yang kadang menular entah kenapa dengan hal hal seperti ini bisa sedikit membersihkan...hhmmm besok kita akan kepuncak sebelumnya mempersiapkan air pagi pagi kita menuju kawah dari kawah kita menyebrang ke jalur baru rencana sekarang seperti itu mudah mudahan lancar tidak ada halangan dan sekarang saat nya tidur. Saat pagi aku termenung berfikir mlm tadi aku merasa kesulitan untuk tidur karna memang aku sendiri tidak ada orang lain disitu
ada banyak suara-suara yang tidak bisa aku jelaskan dari suara langkah kaki yang serasa dekat, suara ranting ranting yang ditarik dan suara-suara binatang yang tidak bisa aku jelaskan ini apa awalnya menakutkan tapi lama kelamaan entah kenapa semuanya menjadi sahdu dan aku sudah lama sekali tidak merasa sedamai itu, hal ini penting mungkin sendiri itu penting karna saat itu aku bisa memisahkan mana suaraku sendiri mana suara suara yang dipaksakan oleh orang lain ke kepalaku kenapa menjadi penting seperti banyak kasus-kasus orang lain semua hanya serba ingin mencontoh serba ingin mengcover jarang ingin mengeluarkan suaranya sendiri, jarang ingin mengeluarkan pemikiran nya sendiri malam itu sepi entah kenapa lama kelamaan aku merasa nyaman ternyata aku sadar ada sahabatku di situ..siapa..ya sahabat terbaik setiap manusia dirinya sendiri dan alam semesta yang dengan baik hati menemaniku dan mengajariku banyak hal dan akhirnya sendiri tak berarti sepi.
Tadi malam sempat hujan walaupun tidak deras suhu drop itu aku sempat terbangun dan tidurpun tidak nyenyak karna aku memang sendiri maklum jalur ini memang sedang sepi dan bertepatan dengan malam jumat kliwon dan pada akhirnya yang hadir itu Cuma ilusi menurutku, habis ini kita mulai jalan lagi dan mengambil air karna persediaan air habis mudah-mudahan airnya masih bagus dan kita menuju kawah dan menuju jalur baru dan sekarang aku sedang menikmati sunrise dlu. Lalu aku melanjutkan perjalanan jalur sudah terlihat indah dan tentunya terjal sekarang sudah jam 8 lewat namun cuaca sudah panas aku mulai menyimpan air dan sedikit memperhitungkan dan menghemat nya karna kedepan sudah tidak ada mata air lagi. Perjalanan pun berlanjut sambil aku menikmati pemandangan tapi jalan menuju puncak bukan jalan yang mudah semakin menuju ke puncak semakin jalan yang aku lalui semakin menanjak  ya... tanjakan tanjakan panjang hampir 3 jam, tanjakan dengan kombinasi panas nya matahari bukan hal yang menyenangkan.  Mungkin aku butuh istirahat yang aku memilih menepi dengan menenggak air yang aku bawa dari kejauhan kawah sumbing sudah terlihat ya... kita sudah memasuki wilayah kawah sumbing, gilaa ini tempat.. bersyukur rasanya tinggal di wilayah nusantara, kita berada di 3 tumpukan lempeng benua tepat di jantung facific rim ada 147 gunung berapi 44 di pulau jawa dan 11 di jawa tengah salah satunya gunung sumbing dalam ketinggian 3371 mdpl walaupun ini gunung berapi tidur, dan tiap tempat ada hal baru entah kenapa ini menjadi gunung favoritku.


“Gagal ke Puncak Lawu, Pulang Membawa Banyak Cerita”

Gunung Lawu, 3.265 mdpl, berada di perbatasan Jawa Tengah (Karanganyar) dan wilayah Jawa Timur (Magetan). Gunung Lawu adalah salah satu gunung favorit para pendaki karena keindahan jalurnya sabana dan cerita-cerita (mistis) yang berkembang tentangnya. Menuju titik awal pendakian Gunung Lawu bisa menggunakan bis antar provinsi atau kereta dengan waktu tempuh kurang lebih 10 jam.
Awal September 2017 yang lalu saya bersama sepuluh teman merealisasikan pendakian ke Gunung Lawu. Perjalanan kali ini sangat menyenangkan, sebab banyak yang seru untuk diceritakan.
Jadi, sepulang kerja saya langsung menuju Stasiun Pasar Minggu, transit untuk ke Kemayoran. Karena nggak dapat tiket kereta buat berangkat kami cuma punya tiket pulang kami memutuskan untuk naik bis malam Damri yang pool-nya berada di Kemayoran, yang juga sekalian dijadikan meeting point.
Ceritanya saya diajak oleh seorang teman, Adam Arwi namanya. Saya baru mengenal teman-teman lainnya saat di Damri Kemayoran. Bang Irwan yang dipilih sebagai leader. Bersama Bang Irwan, Bang Deno Saputra, Fimansyah, Adam Arwi, Bang Heru, dan Jane Jana, saya berangkat dari Jakarta untuk bertemu teman-teman pendaki yang sudah menunggu di Terminal Tirtonadi, Solo. Karena long weekend, jumlah penumpang melonjak pesat. Dan salahnya, kami nggak beli tiket bis beberapa hari sebelumnya. Teman laki-laki ke sana kemari mencari tiket, sementara saya dan Jane menjaga tas sambil bertukar cerita.
Beberapa saat kemudian mereka kembali dengan wajah muram lantaran kehabisan tiket bis. Karena saat itu perut keroncongan, kami mengisi perut dulu sambil memikirkan cara buat berangkat ke Solo. Sedang asyik makan pecel lele di samping pool Damri sambil ngobrol soal keberangkatan, ada seorang bapak-bapak berambut gondrong dan bertubuh tinggi ikut nimbrung. Dan dia menawarkan untuk mengangkut kami dengan mobilnya. Kebetulan ia hendak menuju Solo juga bersama istrinya.
Setelah deal-dealan ongkos, kenalah kami ongkos getok: Rp 180 ribu orang. Berangkatlah kami ke Solo dengan mobil milik bapak gondrong itu. Walaupun berdempetan di dalam mobil, kami nggak peduli. “Ah, elah. Yang penting sampai,” pikir kami.
Perjalanan nggak semulus yang kami pikir: salah masuk tol, ban gembos di Tol Cipali, akhirnya keluar dari tol entah di desa dan daerah mana yang sepi dan gelap, kanan kiri hutan yang sangat minim penerangan, dan entah kenapa lampu depan mobil mati dan kami meraba jalan dengan bantuan pantulan lampu dari kendaraan lain (kalau ada kendaraan yang lewat berarti aman, kalau nggak ya gelap-gelapan dan kami semua cuma bisa komat-kamit saja memanjatkan doa supaya jangan sampai masuk jurang). Untungnya, akhirnya kami menemukan bengkel yang hampir tutup. Bapak montir yang baik hati mau menolong kami untuk isi freon AC, mengganti lampu depan mobil, dan memeriksa ban. Ketika akhirnya kami meneruskan perjalanan, bapak gondrong lupa arah masuk pintu tol!
Sebelnya naik mobil pribadi ya seperti ini: waktu tiba semaunya. Alhasil jam 8 pagi barulah akhirnya kami tiba di wilayah Solo.
Dengan sok tahu kami minta diantar ke terminal kecil yang kami kira sebagai terminal bus. Kenyataannya, terminal itu hanya terminal bayangan saja tempat angkutan desa dan bis tiga per empat lalu-lalang mencari penumpang. Setelah bertanya sana-sini, barulah kami tahu bahwa ternyata Terminal Tirtonadi masih jauh. Masih harus naik bis tiga per empat 30 menit lamanya. Rasanya saat itu ingin nangis: Kok ada saja hambatannya?
Kami pun naik bis menuju Terminal Tirtonadi dengan ongkos Rp 5000 per orang. Alhamdulillah, akhirnya tiba di Terminal Tirtonadi jam 11 siang. Di sana sudah ada dua orang yang menunggu, yakni Kak Tanty dan Mas Pram dari Semarang. Setelah tukar cerita soal perjalanan, dan mengisi perut tentunya, kami langsung menuju jalur pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam. Pemandangannya indah. Kebun teh terhampar di kanan-kiri jalan, ada bukit-bukit yang tinggi menjulang, pohon-pohon pinus kokoh berdiri di pinggir jalan. Saat melintasi jalur ini, jangan lupa buat membuka kaca mobil. Udara segarnya sayang untuk dilewatkan begitu saja. Pokoknya, yang awalnya mengantuk pasti bakal melek terus begitu melihat pemandangan epic ini.
Kami pun tiba di rumah pemilik mobil yang menjemput kami di Solo. Letaknya di kaki Gunung Lawu, dekat sekali dengan Candi Cetho. Pemandangan di depan rumahnya …. jangan ditanya: “Masyaallah, dah! Indah bener!”
Di base camp pendakian Candi Cetho, pendaftaran diurus oleh leader kami, Bang Irwan. Sementara ia mengurus simaksi, perizinan, dan di-briefing, kami hanya menunggu sambil selfie.
Setelah kelar urus-mengurus, kami berdoa kemudian mulai mendaki. Waktu itu sekitar jam 5 sore. Kami mendapatkan dua teman baru dari Semarang, yaitu Mas Mencen dan Mas Gondrong. Jadilah kami bersebelas mendaki bersama.
Saat itu cuaca sangat bersahabat. Burung-burung hutan dan jalak berbunyi menyapa dan mengikuti kami. Selain Candi Cetho, ternyata ada sebuah candi lagi di jalur pendakian yang cukup ramai oleh wisatawan. Namanya Candi Kethek.
Sekitar 30 menit dari Candi Kethek, kami tiba di Pos 1. Karena saat itu magrib, kami berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos 2 untuk salat magrib sekaligus istirahat menunggu isya. Dari Pos 1 ke Pos 2 perlu sekitar 45 menit. Akhirnya kami meng-qada salat magrib dengan isya. Nah, dari sinilah kejadian ganjil muncul.
Jujur, saat selesai salat beberapa dari kami termasuk saya buang air kecil di belakang, yang jaraknya lumayan dari Pos II. Saat itu kami nggak merasakan apa pun. Seperti sebelum-sebelumnya, kami juga sopan santun jika hendak buang air kecil. Kami permisi dan mengucapkan salam dan rasa terima kasih.
Melewati Pos 2, perasaan masih biasa saja. Belum ada keganjilan sama sekali. Sampai akhirnya setelah 10 menit meninggalkan Pos 2 Bang Deno terhentak. Ia seperti kaget dan berhenti. Tapi dia nggak bercerita apa pun dan cuma lanjut berjalan. Kaki saya waktu itu terasa berat sekali. Susah sekali untuk digerakkan. Saya masih berpikiran positif untuk nggak memikirkan hal lain. Sepanjang perjalanan saya melihat makhluk gaib seliweran, Banyak yang saya lihat namun lagi-lagi saya mencoba berpikir positif saja.
Setengah perjalanan, saya terus muntah-muntah. Akhirnya saya terjatuh. Saya dipapah untuk berjalan sebentar sampai Pos 3 yang tak jauh dari lokasi saya jatuh. Di Pos 3, teman-teman istirahat dan saya meluruskan tubuh saya sejenak, lalu …. saya nggak ingat apa pun lagi.
Namun, menurut cerita semua teman-teman pendakian, saya kemudian tertidur. Saat teman-teman sudah selesai masak mie instan, Adam mencoba membangunkan saya. Tapi saya nggak bangun-bangun sampai akhirnya teman-teman semua panik setengah tubuh saya sudah dingin sekali.
Saat itu teman-teman mengira saya kena hipotermia. Lalu Kak Tanty dan Jane Jana mengganti pakaian saya, membungkus saya dengan sleeping bag, sarung, dan memeluk saya sambil membangunkan saya berulang kali. Namun saya sama sekali nggak bereaksi. Menurut cerita teman-teman, napas saya hilang timbul dan tipis sekali. Badan saya juga sudah dingin dan wajah pucat sekali.
Teman-teman sangat takut saya kenapa-kenapa. Kak Tanty dan Jane Jana pun menangis membangunkan saya. Teman-teman ada yang membacakan Surat Yasin sambil terus berusaha membangunkan saya, sampai akhirnya Bang Deno memegang dan memeluk saya. Karena dia juga tahu hal-hal gaib, dia bilang ke temen-temen kalau ada yang mengikuti saya.
Bang Deno terus mencoba membangunkan saya, namun saya nggak bereaksi. Beberapa kali juga dia memberikan napas buatan namun tak ada reaksi juga. Akhirnya, entah apa yang dilakukan oleh Bang Deno, saya pun tersadar dan muntah berkali-kali. Saya pun kaget dan heran melihat teman-teman yang menangis dan tertawa lega melihat saya bangun. Saya cuma bisa melongo karena nggak ingat apa pun.
Tapi, yang saya tahu, tadi saya mimpi bertemu tiga orang pendaki. Seorang laki-laki dan dua perempuan yang salah satunya berkerudung. Yang saya ingat, si laki-laki ini mau minta tolong kepada saya, sementara si perempuan berjilbab meminta saya mendengarkan ceritanya. Perempuan satu lagi hanya tersenyum-senyum dan berulang kali terbahak-bahak.
Saat saya siuman, tak seorang pun teman yang mau bercerita. Kalau saya bertanya “Pada kenapa, sih? Ada apaan?” mereka hanya senyum-senyum tapi bungkam.
Karena sudah jam 11.30 malam, kami memilih untuk kemah di Pos 3 saja dan menunda pendakian sampai esok pagi. Saat itu saya juga masih heran: mereka menjaga saya seperti menjaga seorang narapidana. Saya satu tenda dengan Adam, Kak Tanty, dan Bang Irwan. Walaupun mata belum mengantuk, mereka semua meminta saya untuk tidur.
Pagi harinya kami bangun jam 7 pagi. Setelah sarapan dan siap-siap, kami mulai berjalan ke puncak. Sebelum perjalanan dimulai, berulang kali saya dipastikan sehat oleh teman-teman. Dan saya memang merasa nggak kenapa-kenapa. Saya nggak sakit apa yang harus dikhawatirkan?
Pendakian menuju puncak pun dimulai. Tentunya ditemani segarnya udara dan kicauan burung entah itu burung apa. Nah, saat menuju Pos 4 yang tanjakannya super curam kanan-kiri pepohonan tandus seperti habis terbakar ketika saya mendongak hendak memegang akar pohon, saya kaget sekaget-kagetnya melihat tiga wajah orang dalam keadaan mengelupas dan hancur seperti orang kecelakaan. Saya jatuh dan spontan menangis ketakutan, nggak mau meneruskan perjalanan ke atas. Adam mengalah. Dia ikut turun menemani saya, sementara yang lainnya tetap kekeuh menuju puncak. Kami berpisah di Pos 4. Sebenarnya saya sendiri pun nggak masalah turun sendiri. Tapi Adam terlalu khawatir sama saya sehingga ikut turun. Sepanjang perjalanan turun, Adam tak henti berbicara dan melucu. Katanya, sih, biar pikiran saya nggak kosong.
Tibalah di Base Camp Reco (Relawan Ceto) dan bertemu dengan Pakde Anggoro dan Mas Kris. Pakde Anggoro yang menyambut saya di base camp. Ia seperti sudah tahu apa yang saya alami.
Ia tersenyum saja. “Piye, Nduk? Sehat?” ia bertanya. Saya yang kelelahan hanya membalas senyumnya sambil bilang saya gagal sampai puncak. Ia hanya tersenyum lalu merangkul saya untuk bercerita.
Tapi Adam yang lebih dulu bercerita. Kemudian barulah Pakde Anggoro bertanya apa yang saya ingat. Saya ceritakan tentang ketiga pendaki yang saya “temui” itu tiba-tiba saya spontan menyebut nama “Kartini.”
Ternyata, menurut cerita Pakde Anggoro, dulu terjadi bencana yang sangat menyeramkan, yaitu kebakaran Gunung Lawu di Jalur Cemoro Sewu dan Cetho. Hanya saja bagian Cetho cuma kena sedikit, yakni di sekitar Pos 4.
Menurut ceritanya, yang wafat ada sembilan orang lebih. Ada empat korban kebakaran yang sangat susah untuk diidentifikasi jasadnya. Pakde Anggoro bercerita mereka memang biasa menampakkan wujudnya untuk mengajak pendaki interaksi atau sekadar muncul saja. Banyak yang nggak kuat, sampai kesurupan, drop, sakit, bahkan ada wanita asal Tegalrejo yang kesurupan dari atas sampai base camp lalu karena nggak kuat akhirnya meninggal.
Saya pribadi nggak tahu sedikit pun tentang Tragedi Lawu. Yang saya pernah baca cuma soal si Nenek-Minta-Gendong dan Pasar Setan yang mengharuskan kita untuk melempar duit berapa pun jumlahnya kalau ada suara berbunyi “Tumbas opo?” (“Beli apa?”) di tengah alunan gamelan dan riuh-rendah seperti di pasar.
Ternyata masih banyak misteri Lawu yang belum banyak diceritakan. Beliau hanya geleng-geleng kepala saja. Akhirnya dia memancing “penglihatan” saya untuk menerawang apa yang ada di daerah Bulak Peperangan dan Pasar Dieng. Dengan gamblang saya menceritakan apa yang saya lihat saat itu dan dibenarkan oleh Pakde Anggoro.
Karena semakin penasaran, dia pun bertanya tentang bangunan di dekat base camp. Lagi-lagi saya menceritakan apa yang saya lihat.
 “Kepiye to wis dikandani ra dirungokke,” kata Pakde Anggoro. Ternyata menurut si Pakde, kemarin sebelum kami mendaki, saat briefing Pakde sudah memperingatkan sebaiknya jangan nanjak dengan jumlah ganjil. Dia juga memastikan apakah kami yakin mau mendaki jam 5 sore, kenapa nggak pagi atau siang, atau malam sekalian.
Sebenarnya kalau dipikir benar juga, sih. Karena mulai nanjak nanjak jam 5 sore, kita akan bertemu dua waktu salat yang sangat singkat, yaitu magrib dan isya. Jam-jam segitu memang waktu turunnya sandekala (setan) menjelang maghrib.
Akhirnya Pakde meminta saya untuk mandi di sendang di Puri Saraswati. Namun saya menolak. Akhirnya saya hanya cuci muka, cuci tangan, dan cuci kaki.
Setiba di depan pintu sendang, saya melihat sesosok perempuan cantik, namun terlihat galak dan bertubuh seperti ular. Saya kaget. Lalu Pakde bertanya, “Melihat apa?” Saya bilang bahwa saya melihat wanita itu. Lalu, seraya menunduk dan menelungkupkan tangannya, dia hanya berkata kepada saya, ”Jangan takut. Ayo masuk bersihkan badanmu.” Saya menurut saja lalu saya cuci muka, kaki, dan tangan. Masing-masing tiga kali. Setelah itu saya melemparkan uang koin seikhlasnya ke dalam kolam sambil berharap yang terbaik.
Percaya atau tidak, setelah itu saya merasa badan saya yang sebelumnya nggak karuan menjadi jauh lebih tenang dan enteng. Seperti apa, ya, rasanya? Plong saja, begitu. Ya, terserah, sih, mau percaya atau tidak. Setelah tak kunjung menerima kabar apakah teman-teman yang lain sudah tiba di puncak dan mau bagaimana, akhirnya saya dan Adam pamit untuk pulang kembali ke Jakarta. Pasti teman-teman nggak dapat sinyal.
Akhirnya, karena sudah kesorean, nggak ada angkutan menuju Terminal Karang Pandan. Mau nyewa mobil, harganya mahal sekali Rp 600 ribu dan uang kami sangat terbatas. Dengan keyakinan bahwa siapa tahu ada ojek atau mobil angkutan di bawah sana yang mau mengangkut kami, juga karena waktu itu masih terang, kami turun jalan kaki.
Pemandangannya indah sekali. Tapi ternyata jauh juga jalan kakinya. Lama-lama semakin sepi. Kendaraan yang lewat pun semakin sedikit. Magrib hampir tiba tapi saya dan Adam masih saja berjalan kaki mencari tumpangan.
Yang namanya jalan pedesaan itu lebih menyeramkan, sebab kanan-kiri bukit, kebun teh, kebun sayur, pohon bambu, belum lagi ada suara-suara hewan malam yang kadang suka bikin rancu—benar suara hewan malam atau suara yang “lain.”
Semakin ditelusuri rasanya jalan semakin jauh dan panjang. Sesekali ada mobil lewat. Tapi sebelum kami minta tolong mereka sudah teriak duluan, “Maaf, ya. Mobil penuh.” Akhirnya, setelah kami jalan kaki sekitar tiga kilometer, sesudah beratus kali memasang tampang memelas setiap kali ada kendaraan yang lewat, sebuah mobil berhenti.
“Bade pundi, Nduk?” Tanya seorang ibu kepada saya. Untungnya saya masih bisa bahasa Jawa sedikit-sedikit. “Iki, Bu. Kulo bade teng Karang Pandan. Numpak bis semarangan,” jawab saya. “Hayuk tak anter. Sampeyan jalan kaki seko endi, Nduk?” sang ibu menawarkan tumpangan. “Candi Cetho, Bu. Kulo kesorean ra ono mobil opo ojek sing gelem nganterke mring Karang Pandan.” “Woalah melaske nemen,” sang ibu prihatin. “Angger ra ketemu kambi kulo sampeyan terus mlaku ya Nduk. Tekan subuh, loh.”
Alhamdulillah masih ada manusia baik yang punya hati nurani untuk menolong sesamanya. Berkat pertolongan sang ibu dan keluarganya, saya dan Adam bisa sampai di Terminal Karang Pandan jam 8 malam. Tapi nasib baik nggak kunjung berpihak pada kami. Terminal Karang Pandan sudah sepi. Nggak ada satu pun bis antarkota yang masih parkir menunggu penumpang. Hanya ada beberapa penjual kacang rebus, jagung rebus, dan bakul rokok keliling yang selalu menawarkan dagangannya walaupun kami sudah bilang, “Mboten, Mas.”
Pikiran sudah buntu. Saat saya dan Adam sudah nggak tahu lagi harus naik apa ke Terminal Tirtonadi, tiba-tiba kami dihampiri tiga orang laki-laki. Dari mulut mereka menguar bau minuman keras. Saya pikir ketiga laki-laki itu hendak berbuat yang tidak-tidak. Namun kami salah.
Justru ketiganya menawarkan bantuan untuk mengantarkan kami ke Solo kota agar bisa mencari taksi atau bis lainnya ke Terminal Tirtonadi. Sepanjang perjalanan, karena masih dalam keadaan mabuk, mereka naik motor semaunya, “sengebutnya.” Kalau mereka mengajak ngobrol, bau mulut mereka sangat menyengat. Tapi, namanya butuh ya diantepin saja. Untungnya mas-masnya ini masih mau ditegur jika motor sudah kelewat kencang.
Tibalah kami di Solo kota. Kami berterima kasih sekali kepada mas-mas yang mengantarkan kami itu. Luar biasanya, tak ada seorang pun di antara mereka yang mau dibayar. Mereka ikhlas. Kami pun tukaran nomor ponsel. Suatu saat kalau saya ke Lawu lagi, saya pasti akan ajak mereka ngopi. Dari sana, gampang saja kami menemukan taksi.
Sudah lega. Tak terasa kami sudah berada dalam bis menuju Semarang. Tiba di Semarang jam 11 malam, kami mengisi perut dulu di sekitar Stasiun Tawang. Makanannya unik, yakni nasi goreng yang dimasak dengan arang. Lama sekali matangnya.
Setelah makan kami menunggu kereta di dalam stasiun. Kemudian kami mendapat kabar yang kurang baik dari teman-teman yang muncak Lawu. Mereka turun dari puncak lewat Cemoro Sewu. Jane Jana kakinya terkilir sampai harus digendong secara bergantian, bahkan oleh ranger. Dia juga sempat demam tinggi. Kak Tanty sakit dan beberapa teman lainnya drop. Mereka terpaksa meng-cancel jadwal pulang mereka karena sudah sangat larut malam dan nggak akan keburu juga tiba di Semarang pada jadwal keberangkatan kereta, pukul 2 malam. Tiket pun hangus. Tapi, yang tereliminasi dari puncak Gunung Lawu hanya saya dan Adam.
Perjalanan mendaki kali ini tidak akan pernah saya lupakan. Semua cerita dan kisahnya akan selalu teringat, begitu pun janji kepada sang Lawu bahwa suatu saat nanti saya akan kembali bersilaturahmi, untuk bertemu Mbok Yem dan Hargo Dumilah.
Dan, percaya tidak percaya, saat saya tiba di Jakarta dan iseng mengecek Facebook, saya terhenyak mendapati bahwa ternyata saya sudah berteman dengan Alm. Aris Munandar, salah seorang korban kebakaran Gunung Lawu yang jenazahnya nggak bisa diidentifikasi selama 7 hari. Tak hanya berteman dengan almarhum, saya juga berteman dengan beberapa teman pendakiannya dari tahun 2010!. Perjalanan 15 hariku pun berlanjut.


“Pendakian Gunung Slamet via Guci”
Pendakian Gunung Slamet via Guci ini saya mulai dari Stasiun Pasar Senen. Dari sana saya dan rombongan naik kereta api ke Stasiun Tegal. Seterusnya, perjalanan kami lanjutkan ke Base Camp Kompak dengan mobil sewaan selama sekitar tiga jam.
Karena Base Camp Kompak berada di kawasan Pemandian Air Panas Guci, waktu tempuh menuju base camp akan lebih lama pada hari-hari libur besar.
Puncak Gunung Slamet mengintip di kejauhan
Setelah istirahat sejenak melepas lelah akibat perjalanan panjang melewati jalan menanjak dan berliku, kami pun melakukan registrasi pendakian. Biaya pendaftaran pendakian Gunung Slamet via Guci hanya Rp 15.000/orang. Pihak base camp biasanya akan meminta foto rombongan untuk dokumentasi. Selain itu ketua rombongan juga diminta untuk meninggalkan KTP di base camp. Perjalanan dari base camp ke Pos 1 berlangsung sekitar 60 menit. Jalannya bisa dibilang landai. Saya dan rombongan berjalan melintasi jembatan, kemudian naik ke perkebunan karet warga sebelum sampai di perkebunan sayur. Saat cerah, dalam perjalanan antara base camp dan Pos 1 puncak Gunung Slamet akan kelihatan jelas.
Memasuki Pos 2 trek melewati ilalang yang rimbun serta pohon berduri yang kadang membelai lembut kaki atau tangan. Jadi, memakai baju lengan panjang adalah keputusan yang paling bijaksana. Dari Pos 2, Pos 3 ditempuh selama sekitar 90 menit lewat jalur yang tak terlalu terjal.
Trek yang paling PR adalah dari Pos 3 ke Pos 4. Sempat berhenti untuk “isoma,” ketika akan melanjutkan perjalanan hujan deras pun turun. Kami kehujanan. Namun untung saja jalurnya cukup landai meskipun sesekali kami harus melewati rintangan pohon tumbang. Jalurnya juga lumayan rapat.
Inilah fase terpanjang dalam pendakian Gunung Slamet via Guci. Tak main-main, saya dan rombongan melaluinya sekitar 150 menit.
Melewati rintangan berupa pohon tumbang/Ida Juniarsih Pos 4 sempit, karena itu lebih pas untuk mendirikan tenda di Pos 5 yang lebih luas dan sudah dekat dengan batas vegetasi.
Dengan waktu tempuh sekitar 60 menit, medan dari Pos 4 ke Pos 5 lumayan berat. Saya pun mulai konsentrasi untuk berpegangan pada akar-akar pohon. (Di antara Pos 4 dan Pos 5 beberapa orang kawan sempat turun ke lembah dengan semacam fixed rope untuk mengambil air.) Perjalanan dari mata air itu menuju Pos 5 pun terasa semakin menguras tenaga. Jalur semakin terjal, melewati lorong-lorong seperti jalur di Gunung Kerinci. Sesekali kami pun harus merunduk menghindari perakaran. Namun hujan yang tadinya deras kini berubah jadi gerimis romantis. Menjelang matahari terbenam, kami tiba di Pos 5. Matahari terbenam (sunset) dari Pos 5 ternyata indah sekali. Di Pos itu kami berjumpa rombongan yang sengaja berkemah semalam lagi demi menyaksikan sunset di sana.
(Saran saya, hindari melakukan perjalanan malam saat mendaki Gunung Slamet via Guci, sebab hutan dan jalurnya masih rapat. Selain itu, usahakan juga kamu sudah tiba di Pos 5 sebelum gelap.) Setiba di Pos 5 kami langsung mendirikan tenda sebab hari sudah hampir gelap. Setelah mengganti pakaian yang basah, kami makan kemudian langsung istirahat. Hari yang melelahkan.
Rencananya kami akan memulai perjalanan menuju puncak (summitting) jam 3 pagi. Namun manusia hanya bisa berencana dan Tuhanlah yang menentukan; kami baru mulai mendaki sekitar jam 4.30 pagi.
Dari Pos 5 kami mendaki sekitar 15-20 menit menuju batas vegetasi. Selepas batas vegetasi, trek berubah menjadi jalur tanah dan batu, kemudian berganti jadi trek pasir dan batu. Saya pun mulai waspada untuk selalu menginjak batu yang stabil supaya bongkah-bongkah kecil itu tidak gugur dan menggelinding ke bawah.
Bau belerang mulai tercium. Tak lama, jalurnya menjadi mirip sekali dengan Semeru. Barangkali tak berlebihan kalau disebut sebagai miniaturnya Semeru. Akhirnya, setelah perjalanan panjang sekitar 3 jam dari batas vegetasi, kami tiba di puncak.



“Pendakian Menuju Puncak Gunungi Rinjani”
Pagi itu, Kamis, 4 Mei 2017, cuaca cerah berbalut udara segar menyelimuti base camp pendakian Sembalun. Sinar mentari dari ufuk timur terlihat sudah mulai bertugas, mulai meninggi dan menyilaukan mata. Sejenak aku tertegun menikmati segarnya udara pagi itu, sembari mengemasi peralatan untuk memulai perjalanan. Meski hari masih pagi, base camp sudah mulai dipadati pendaki yang datang dari berbagai penjuru. Tak ingin ketinggalan, ransel yang ukurannya melebihi tinggi badan segera kusandangkan di bahuku. Ransel itulah yang akan menemani perjalananku menapaki jalur menuju puncak Gunung Rinjani.Gunung Rinjani berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dengan tinggi 3.726 mdpl, banyak objek menarik yang ditawarkan Gunung Rinjani selain puncak, seperti hamparan padang rumput yang luas, Danau Segara Anak, Goa Susu, sumber pemandian air panas, air terjun, dan sepertinya masih banyak lagi yang lainnya.
Ada tiga jalur resmi untuk mencapai puncak Gunung Rinjani, yakni Jalur Sembalun, Senaru, dan Torean. Kami pilih Sembalun, sebab dibandingkan jalur lain Sembalunlah yang paling landai walaupun cukup panjang. Waktu di arloji saat itu menunjukkan jam sepuluh pagi. Sejenak kami meluangkan waktu untuk berdoa sebelum memulai perjalanan menuju puncak. Kemudian, perlahan langkah kaki kecilku mulai menyusuri jalan setapak. Gerombolan sapi yang mencari makan terlihat asyik berkeliaran saat kakiku melangkah melewati hamparan padang rumput. Di kejauhan, lambaian daun nyiur bergoyang-goyang ditiup angin seolah sedang memberi salam kepada kami yang sedang bertualang. Sejauh mata memandang, jalan setapak yang ada di depan seolah tanpa ujung. Puncak Rinjani pun belum terlihat, menandakan perjalanan masih jauh dan panjang. Tiga jam berjalan menyusuri jalan setapak, akhirnya kami sampai di Pos 1. Waktunya melepas penat untuk meredakan nyeri di bahu yang lama menyandang ransel yang cukup berat. Tak lama-lama di Pos 1, perjalanan pun kemudian kami lanjutkan.Padang rumput masih jadi panorama yang mengiringi sepanjang perjalanan saat itu. Dalam perjalanan, kami banyak menjumpai pendaki lain. Ada yang berjalan berombongan seperti kami, ada pula yang didampingi oleh pemandu dan porter yang membawa barang bawaan mereka.Porter-porter itu seperti tak punya rasa lelah. Padahal barang yang mereka bawa tidaklah sedikit. Mereka membawa barang dengan cara memikulnya di bahu dan berjalan tanpa alas kaki. Sebagian di antara mereka berkulit legam akibat sengatan sinar matahari. Namun, mereka terlihat enak saja berjalan, bahkan jauh di depan mendahului pendaki yang menyewa jasa mereka.Dari kejauhan, sebuah bangunan kecil mulai tampak. Pos 2. Perlahan kami mendekatinya, kemudian duduk beristirahat di sisi luar bangunan itu. Pos 2 itu penuh sesak oleh pendaki lain yang sudah lebih dulu tiba di sana. Waktu saat itu baru menunjukkan jam dua siang dan kami memutuskan untuk beristirahat lebih lama di pos itu. Dalam hitungan menit, peralatan memasak pun dikeluarkan. Sejurus kemudian, secangkir kopi hitam terhidang. Lumayan untuk menghangatkan badan yang mulai kedinginan karena kabut mulai turun menyelimut.Tak jauh dari Pos 2 ini ada sumber air yang dimanfaatkan oleh para pendaki untuk mengisi kembali botol minum yang sudah kosong. Namun, hari itu untuk mengisi air kami mesti sedikit bersabar, sebab antrean cukup panjang.
Suasana berkabut saat itu tiba-tiba berubah. Hujan turun dengan derasnya dari langit. Air yang tercurah itu memaksa kami untuk menempel lebih rapat ke dinding agar tak terkena percikan. Ditunggu-tunggu, hujan deras itu tak kunjung reda. Mataku pun mulai mengantuk terbuai hawa sejuk. Aku bangun jam setengah empat sore. Hujan hanya tadi deras sekarang sudah reda. Saatnya kembali melanjutkan perjalanan.Medan yang kami hadapi mulai terjal, berbatu, dan berliku. Hari mulai gelap. Langkah kaki pun dipercepat untuk mencapai Pos 3, sebelum hari benar-benar gelap. Meski dengan langkah cepat, aku mesti tetap hati-hati supaya tidak terjatuh.Tiba di Pos 3 kami langsung mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Tanpa komando, kami mulai bagi tugas. Sebagian mempersiapkan tenda, sebagian lagi menyiapkan makan malam. Malam itu kami akan bermalam di Pos 3 untuk mengembalikan kondisi fisik yang terkuras oleh perjalanan panjang.
Cuaca malam itu bersahabat. Bulan dikelilingi gemintang. Melihatnya, lelah akibat perjalan seharian tadi terasa terbayarkan. Malam yang dingin itu jadi hangat karena kami makan malam dengan menu ala mapala. Rasanya hotel berbintang sekali pun takkan bisa mengalahkan pengalaman berkemah malam itu. Kami berempat memilih memanjakan raga malam itu di dalam tenda. Sementara, di luar sana masih terlihat pendaki yang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan meskipun sudah larut malam. Malam itu kami habiskan dengan bercerita dan bersenda gurau, entah membicarakan hal penting atau hanya saling lempar cerita pepesan kosong untuk saling mengenal satu sama lain. Secangkir kopi menjadi saksi bisu kisah kami malam itu hingga masing-masing dari kami merebahkan badan di atas matras pengganti kasur. Hingar bingar suara pendaki lain yang masih terjaga sedikit mengusik ketenangan tidur malam ini.
Kamis berganti Jumat, 5 Mei 2017. Bulan yang sepanjang malam tadi menemani kami sudah berganti tugas jaga dengan sang matahari. Meski kantuk masih mendera, perjalanan hari kedua masih harus dilanjutkan demi menggapai puncak Gunung Rinjani. Saat itu sudah jam sembilan pagi. Kami bergegas mengemasi peralatan. Setelah semua barang yang kami bawa masuk ke dalam ransel, kami menyisakan sedikit makanan ringan sebagai bekal sekaligus sarapan dalam perjalanan. Tak lupa kami melaksanakan ritual wajib untuk berdoa sebelum melanjutkan perjalanan.Ketika perjalanan hari kedua dimulai, aku kembali teringat dengan kutipan novel 5cm yang cukup terkenal itu: “Saat ini yang dibutuhkan hanya kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih kuat dari biasanya, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa.”Kutipan itu ternyata tak hanya sesuai untuk menggapai Mahameru, namun juga cocok untuk perjalanan kami menuju puncak Gunung Rinjani. Medan perjalanan mulai terasa berat di hari kedua. Jalan setapak berpasir dan berbatu sedikit menghambat perjalanan terjal pula! Sementara, di kejauhan yang terlihat hanya gugusan perbukitan. Puncak Gunung Rinjani belum juga kelihatan.Tujuan kami hari itu adalah Pos Plawangan, yang dari sana puncak Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak tampak dengan jelas. Untuk mencapai Plawangan, aku harus melewati bukit yang dikenal sebagai Tujuh Bukit Penyesalan. Meskipun namanya sedikit menyeramkan, bukit itu tetap harus ditempuh. Bagaimana melewati tujuh? Satu saja sudah menguras tenaga.Rasa penasaran pun menghantuiku. Seberapa lama perjalanan yang harus ditempuh untuk melalui bukit-bukit itu? Beberapa kali aku mencoba bertanya kepada pendaki lain yang sedang dalam perjalanan turun. Namun, jawaban dari mereka seperti membebani secara psikologis sebaiknya tak usah dihiraukan. Lima jam berlalu. Akhirnya kami tiba di Pos Plawangan saat hari sudah beranjak sore. Perut mulai menagih asupan gizi. Kami pun segera mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Dibanding pos-pos sebelumnya, Pos Plawangan terletak di posisi yang jauh lebih tinggi, terbuka, dan hanya punya beberapa rumpun pepohonan. Alhasil, tempat ini diterpa tiupan angin yang lebih kencang. Malam ini kami putuskan untuk beristirahat lebih awal dari malam sebelumnya. Rencananya, esok dini hari kami akan melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dari tempat kami mendirikan tenda, setidaknya masih perlu waktu lima jam untuk mencapai puncak. Memaksimalkan waktu istirahat untuk menjaga kondisi fisik adalah hal terpenting dari setiap kegiatan apa pun, apalagi mendaki gunung.Sabtu dini hari, 6 Mei 2017, tepat jam dua dini hari kami memulai perjalanan menuju puncak. Harapannya, kami bisa tiba di Puncak Anjani sekitar jam tujuh pagi. Kondisi jalur yang sempit saat itu sudah mulai ramai ketika kami memulai perjalanan menuju puncak. Trek berpasir dan berdebu sedikit menghambat perjalanan, juga antrean pendaki lain yang punya tujuan sama, yakni menuju puncak.
Akhirnya, sesuai dengan rencana, kami berhasil tiba di puncak Gunung Rinjani tepat pukul tujuh pagi. Suasana di puncak ketika kami sampai laksana pasar yang penuh dengan keriuhan dan keramaian.Sungguh indah pemandangan yang disuguhkan: Segara Anak dan Gunung Barujari (anak Gunung Rinjani) terlihat jelas dari atas puncak. Syukur, hanya itu yang bisa diucapkan karena untuk mencapai puncak ini butuh perjuangan yang tidak mudah. Ini adalah balasan dari kerja keras untuk melihat keindahan yang Dia ciptakan. Di antara pendaki yang berada di Puncak Anjani pagi itu, ada yang terlihat asyik berfoto ria sambil memegang secarik kertas bertuliskan ucapan entah apa tren yang sedang mewabah saat ini. Yang menjengkelkan adalah usai berfoto kertas-kertas itu mereka tinggalkan begitu saja sehingga berserakan di mana-mana. Mengganggu pemandangan.Sejenak batinku tertegun melihat tingkah polah pendaki yang seperti itu. Miris memikirkan bahwa tujuan akhir dari mendaki seolah-olah hanyalah pamer diri di media sosial tanpa peduli keadaan sekitar. Usai mengabadikan gambar sebagai bukti sudah mencapai puncak, sekitar jam sembilan pagi kami pun mulai turun perlahan meninggalkan puncak.Sesuai kesepakatan semalam, kami akan langsung kembali ke base camp. Mewujudkan impian untuk menyentuh air Danau Segara Anak pun terpaksa harus aku urungkan. Kami harus mengejar waktu. Tepat pukul enam sore, kami tiba kembali di base camp. Jika menggapai puncak memerlukan waktu lebih dari 16 jam, perjalanan turun hanya memakan waktu sekitar 6 jam! Banyak pengalaman berharga yang terbayar dari perjalananku menuju puncak Gunung Rinjani. Selain menyuguhkanku panorama alam yang indah, perjalanan ini juga mengajarkan arti sebuah perjuangan dalam mencapai tujuan.


“Mendaki Mendekatkan Diri Pada Sang Ilahi Robbi”
Sampai saat ini, mungkin dunia petualangan tak mengenal siapa yang pertama kali mencetuskan istilah “pendaki” beserta penjabarannya. Namun bisa saja istilah pendaki mulai populer sejak frasa “Pencinta Alam” dicetuskan sekitar tahun 60-an seiring berdirinya organisasi Mapala UI dan Perhimpunan Wanadri. Tak ada yang bisa secara tepat mendefinisikan arti dari kata pendaki itu sendiri. Masing-masing orang, apalagi jika dia seorang pencinta alam, terkadang memiliki versinya sendiri-sendiri, sesuai dengan proses petualangan yang dia alami. Mungkin, mencari definisi kata pendaki sama saja seperti kita mencari tahu alasan seseorang hobi naik gunung. “Mau apa naik gunung? Sudah sampai puncak, turun lagi! Cape-capein saja, belum kedinginan, kehujanan, kepanasan!” Alasan-alasan itu yang kerap kita dengar dari orang-orang yang tak menyukai hobi tergolong ekstrem ini. Tapi coba tanyakan pada orang-orang yang hobi mendaki gunung; beribu alasan kenapa mereka suka mendaki akan terjawab dengan gamblangnya. Namun untuk menjawab secara tepat kenapa seseorang mendaki gunung, jawabannya relatif. Tergantung dari pengalaman apa yang dia dapat saat mendaki pertama kali. Legenda-legenda pendaki gunung seperti, Edmund Hillary, Reinhold Messner, George Mallory atau, misalnya, (Alm.) Norman Edwin, Soe Hok Gie, dan lain-lainnya, pasti mempunyai alasan tersendiri kenapa mereka begitu menyukai naik gunung. Kenapa mereka terus dan terus mendaki gunung hingga akhirnya harus menghembuskan napas dalam pelukan gunung yang dingin. Tak ada jawaban pasti. Semuanya memiliki definisi yang relatif. Begitu juga dengan istilah pendaki. Beberapa orang mengartikan pendaki sebagai pencari. Lainnya barangkali menganggap pendaki sebagai penempuh rimba, penjelajah, orang yang melakukan penelitian bersifat ilmiah. Bahkan ada juga yang mengartikan lebih nyeleneh, bahwa pendaki itu adalah singkatan dari “pejalan banyak daki.” Tapi, bagi saya, semua itu sah-sah saja, karena semua orang bebas dalam mendefiniskan arti dari kata-kata mendaki itu.
Namun jika kita mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata pendaki adalah orang yang mendaki. Jika berpijak pada definisi itu, bisa saja terjemahan bebasnya menjadi seperti ini; bahwa pendaki gunung dapat dikatakan sebagai orang yang gemar atau memiliki hobi melakukan kegiatan mendaki gunung. Mereka tidak memiliki motivasi lain selain hanya sekadar melakukan kesenangannya sendiri yakni mendaki gunung, mencari ketenangan, udara segar, kebersamaan, atau hanya sekadar menikmati keindahan alam, baik secara individual maupun secara berkelompok. Apapun itu, mendaki memiliki filosofi tersendiri yang bebas diterjemahkan oleh masing-masing orang. Pendakian adalah sebuah perjalanan yang kaya akan pelajaran, dan mendaki merupakan jalan untuk mengenali dan memperbaiki diri. Dan jika bicara mendaki tentu ada objek dari pendakian itu sendiri, yakni gunung. Dalam Sunda, arti kata “gunung” kerap diterjemahkan sebagai Guru Nu Agung. Pada masa klasik, bagi masyarakat Sunda, gunung menduduki tempat tersendiri pada sistem religinya. Di masa itu, gunung memiliki peranan sendiri dalam sistem masyarakat dan juga agama. Ini artinya keberadaan gunung tak bisa jauh dalam konteks kehidupan masyarakat terdahulu.
Dalam berbagai literatur tentang gunung, banyak disebutkan jika gunung-gunung yang ada di Nusantara ini berabad-abad lampau telah banyak yang didaki. Hal ini diyakini juga oleh Junghuhn, seorang zoologist dari Belanda (sebelumnya berkebangsaan Jerman), yang mengalami hal ini secara langsung. Junghuhn dan para pendaki Eropa lainnya dikejutkan dengan temuan berupa bekas-bekas kegiatan manusia di kawasan sekitar hutan Gede-Pangrango. Di sekitar kawah yang baru ditemuinya itu, mereka menemukan patilasan (jejak) berupa batu-batu yang dipercaya sebagai makam nenek moyang masyarakat setempat. Ini artinya, gunung menempati posisi dan peran penting dalam berbagai agama. Ada agama-agama yang percaya bahwa gunung adalah tempat disampaikan atau diungkapkannya ajaran agama, atau tempat turunnya guru atau pendiri agama mereka dari surga. Agama-agama lain menganggap gunung sebagai simbol pendakian spiritual. Oleh karena itu para penganut agama menjadikan gunung sebagai tempat suci dan sebagai tujuan dharma yatra (ziarah). Juga Gunung Kaliasa (Kailash) di India, dipandang sebagai tempat suci oleh empat agama, yaitu Hindu, Buddha, Jain, dan Bon.
Di Indonesia, dikenal juga beberapa gunung yang dianggap sebagai tempat suci, seperti Gunung Agung, Gunung Batur, Gunung Batukaru, Gunung Semeru, Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Salak. Status sebagai tempat suci membuat gunung terlindungi dan terpelihara dari perusakan dan pencemaran. Oleh karena itu, gunung suci juga terjamin sebagai sumber air yang sangat penting bagi pertanian khususnya dan kehidupan umumnya. Kita ambil contoh Gunung Agung di Bali. Dalam penelitiannya di Bali, Stuart-Fox (2010, dalam Mudana et al., n.d.) menyatakan, mitos tentang asal usul Gunung Agung sering dikaitkan dengan Hinduisasi yang menghubungkan bagaimana
gunung tersebut dibawa dari India ke Pulau Jawa dan Bali. Puncak gunung dianggap sebagai kawasan suci dan merupakan tempat bersemayamnya para penjaga kehidupan, bumi, dan roh para leluhur yang telah menganugerahkan kemakmuran bagi umat manusia, atau mengambil kembali dengan kemurkaannya membawa kematian dan kehancuran bagi dunia. Mitos Gunung Agung dipercaya merupakan pecahan dari Gunung Mahameru, dan dalam metafora genekologis ini dewa dari Gunung Agung merupakan putra dari dewa Gunung Mahameru, yakni Dewa Pasupati. Salah satu nama dewa Gunung Agung, Putrajaya (atau Putranjaya) secara jelas mengungkapkan hubungan anak ini, sementara namanya yang lain Mahadewa, adalah salah satu julukan bagi Siwa, menunjukkan statusnya yang paling tinggi dalam Hinduisme di Bali. Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Bali. Gunung Agung mendapatkan posisi yang sangat spesial dalam masyarakat Hindu, khususnya di Bali.
Di tengah gunung yang disucikan ini terdapat Pura Pasar Agung dan di kakinya berdiri Pura Besakih sebagai pura terbesar di Bali. Bahkan di puncak Gunung Agung, yakni di kawasan kawahnya, ada semacam tempat yang disucikan bernama Puser Tasik yang merupakan tempat mulang pakelem (upacara melarung sesajian). Puser tasik (puser = pusat, tasik = garam) dapat dimaknai secara harfiah sebagai “pusat garam” karena ada kepercayaan bahwa lobang kepundan Gunung Agung tembus dengan laut (tempat garam) sesuai paradigma segara-gunung (segara = laut, gunung = gunung) dalam sistem budaya masyarakat Bali. Pura Besakih yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, ini dikategorikan sebagai Sad Kahyangan, jadi ia adalah salah satu dari enam pura utama yang ada. Lima lainnya adalah Pura Lempuyang di Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem; Pura Uluwatu di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung; Pura Goa Lawah, Kabupaten Klungkung; Pura Batukaru, Kabupaten Tabanan; Pura Pusering Jagat (Pura Puser Tasik), Desa Pejeng, Keacamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.
Dalam Islam sendiri, kegiatan mendaki gunung jika dilakukan dengan penuh penghayatan adalah sebagai salah satu wujud Iqra’ kita kepada ayat-ayat Allah SWT. Hakikatnya, usaha mencintai alam bermuara pada mengenal dan mencintai sang pemilik alam, yaitu Allah SWT. Agak sulit rasanya ketika kita akan mendapatkan nuansa yang akan membawa perasaan kita pada perenungan tentang alam raya, jika nyatanya melakukan pendakian dalam sorak sorai dan gemuruh hiruk pikuk yang melenakan. Sebagaimana Nabi Ibrahim AS, Rasulullah Muhammad SAW pun mendapatkan wahyu pertama melalui Jibril juga sebelumnya telah melalui perenungan yang dalam tentang konsep penciptaan alam semesta. Baginda Rasulullah ber-tahannuts di Gua Hira’ sekian lama sebelum Allah SWT mengutus malaikat Jibril AS untuk menyampaikan wahyu pertama-Nya.
Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
Bacalah, Dan Tuhan-mulah Yang Maha Mulia
Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam ( pena )
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak di ketahuinya.
( QS Al’alaq: 1 – 5 )
Dan pengertian Iqra’: “Bacalah” pada ayat di atas bukanlah semata-mata membaca seperti pengertian harfiah yang kita pahami, namun membaca yang dimaksud adalah juga mencakup melihat, memperhatikan, mendengar, merasakan, mengamati, memikirkan, dan merenungi jagad raya ciptaan Allah Sang Khalik. Kita diminta oleh Allah SWT untuk merenungi kejadian alam semesta ini, bagaimana bumi dihamparkan, gunung ditegakkan, dan langit ditinggikan, agar kesemuanya ini membawa kita pada bentuk kesadaran tentang betapa Maha Perkasa dan Maha Agungnya Allah. Dengan kesadaran semacam ini, kesombongan dan keangkuhan kita sebagai manusia yang merasa hebat dan merasa kuat akan dapat segera dikikis. Akhirnya, terlepas apapun itu soal mendaki gunung, baik itu untuk olah raga, hobi, atau pun keilmuan kembali ke hakikatnya masing-masing. Namun yang patut diyakini, dengan mendaki seseorang dapat mendekatkan diri pada Illahi Rabbi, lewat ciptaan-Nya yang terhampar luas. Bukankah dalam kitab sucinya, Al-Quran, Allah SWT menjelaskan soal tujuan penciptaan gunung beserta alam raya ini? Bukalah QS Nuh: 19-20, di mana Allah berfirman, “Allah telah menjadikan bumi terhampar luas untukmu, agar kamu dengan bebas meniti jalan-jalan yang terbentang di bumi.” Atau dalam QS An Naazi’aat: 32, lebih detail lagi Allah bicara soal ini. Katanya, “Gunung-gunung pun Ia pancangkan, untuk kesenanganmu” (QS An Naazi’aat: 32).
Begitulah gunung diciptakan dan untuk tujuan itulah seharusnya para pendaki gunung mendaki. Pada tataran tertentu, para pendaki gunung sebenarnya adalah orang-orang yang telah berguru pada alam. Guru yang langsung diciptakan oleh Tuhan untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kita. Jadi, bisa dibilang orang-orang yang berguru pada alam itu sesungguhnya telah berguru pada Sang Maha Guru yang lebih banyak memberi dan tak pernah meminta.
Karena ilmu tanpa batas itu sumbernya dari Tuhan, alam adalah medianya. Nabi Musa saja harus mendaki Gunung Sinai ketika akan mendapatkan Taurat. Nabi Muhammad juga harus mendaki bukit (jabal) dan tinggal di Gua Hira’ yang tidak mudah digapai sebelum akhirnya menerima wahyu yang pertama. Demikian pula para empu yang harus mendaki gunung untuk bertapa sampai pada akhirnya mendapatkan pencerahan berupa ilmu atau kesaktian.
Jadi, kegiatan mendaki gunung harus memiliki tujuan yang jelas agar kegiatan yang kita lakukan tidak sia-sia. Dengan mendaki gunung kita akan merasakan kedekatan dengan alam yang pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada kedekatan diri kita dengan Tuhan. Dengan mendaki gunung kita akan belajar ilmu agama yang jauh lebih tinggi, yakni ilmu hakikat diri. Hal-hal seperti ini sesungguhnya sudah dibuktikan oleh para nabi dan kaum petapa yang gemar sekali mendaki gunung untuk sekadar bertapa dan menyendiri guna mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dengan menyendiri di gunung-gunung selama beberapa hari bahkan sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun, mereka merasakan kedekatan dengan Tuhannya, sampai pada akhirnya mereka dikaruniai beberapa ilmu yang tak semua orang bisa mendapatkannya: hakikat. Dan ini sesuai dengan ucapan para hukamah atau sufi bahwasanya jika kita mampu mengenali diri sendiri, kita akan memahami betapa ciptaan Allah SWT begitu luas membentang, perkasa dan tak tertandingi. Dengan begitu, semoga perjalanan mendaki akan makin mendekatkan diri pada Ilahi.








“Mencari lawan yang seperti kita tuh tidak lah mudah. Karena apa, semua orang akan lebih memilih bermain ke wahana dari pada bermalam di hutan. Aku bukan lagi si jejak rasa tetapi melainkan si pembuat rasa. Dan berpetualanglah melintasi pelosok negri, maka nikmatilah jutaan hal hebat yang siap menanti”
Muhammad Rizki ,-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar